1. A.      Judul Penelitian

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG KONSEP GAYA PADA PEMBELAJARAN IPA DI KELAS IV TAHUN AKADEMIK 2011/2012

(SDN Lengkongjaya Kec. Parungponteng Kab. Tasikmalaya)

 

  1. B.       Latar Belakang

Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan kepribadian, ahlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. (BNSP 2006 : 3) Dengan demikian, pendidikan dasar harus mampu memberikan peningkatan mutu dan relevansi dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih maju menuju globalisasi. Pembaharuan dunia pendidikan merupakan suatu upaya dalam menjembatani perubahan zaman yang semakin pesat, sehingga siswa dituntut agar mampu bertahan dan bersaing dengan fenomena di dalam dunia pendidikan.

Perkembangan teknologi yang merupakan hasil dari dunia globalisasi tidak akan lepas dari perkembangan dalam bidang IPA. Perkembangan  bidang IPA tidak mungkin terjadi bila tidak disertai dengan peningkatan mutu pendidikan IPA. Sementara selama ini pelajaran IPA dirasakan sebagai pelajaran yang sulit. Hal ini dapat dilihat dari nilai mata pelajaran IPA yang rata-rata masih rendah bila dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Hal ini menunjukkan masih rendahnya mutu pelajaran IPA. (Kilk disini lebih lengkapnya)

Kajian yang dilakukan seusai melaksanakan pembelajaran secara konvensional  terhadap konsep gaya, diperoleh data  siswa dari hasil test akhir dalam pembelajaran yaitu dari 34 siswa, yang telah menguasai materi 70% ke atas adalah 13 siswa, sisanya  21 siswa memperoleh nilai rata-rata di bawah 69%.

 

Tabel 1.1

Data Hasil Tes Formatif Siswa Sebelum Perbaikan

No

Nama Siswa

Nilai

Keterangan

Lulus

Tidak Lulus

1

L. 1

50

 Tidak Lulus

2

L. 2

75

 Lulus

3

L. 3

70

 Lulus

 –

4

L. 4

75

 Lulus

5

L. 5

70

 Lulus

6

L. 6

80

 Lulus

7

L. 7

70

 Lulus

 –

8

L. 8

85

 Lulus

 –

9

L. 9

50

 Tidak Lulus

10

L. 10

75

 Lulus

 –

11

L. 11

45

 Tidak Lulus

12

L. 12

50

 –

 Tidak Lulus

13

L. 13

50

 –

 Tidak Lulus

14

L. 14

60

 –

15

L. 15

50

 –

 Tidak Lulus

16

L. 16

75

 Lulus

 –

17

L. 17

55

 Tidak Lulus

18

L. 18

70

 Lulus

19

L. 19

75

 Lulus

20

L. 20

50

 Tidak Lulus

21

L. 21

50

 –

 Tidak Lulus

 22

L. 22

 50

 Tidak Lulus

23

L. 23

40

 Tidak Lulus

24

L. 24

40

 Tidak Lulus

25

L. 25

60

 Tidak Lulus

26

L. 26

75

 Lulus

27

L. 27

70

 Lulus

28

L. 28

60

 Tidak Lulus

29

L. 29

60

 Tidak Lulus

30

L. 30

60

 Tidak Lulus

31

L. 31

40

 Tidak Lulus

32

L. 32

55

 Tidak Lulus

33

L. 33

60

 Tidak Lulus

34

L. 34

50

 Tidak Lulus

Jumlah

2005

13

21

Rata-rata

58.97

Persentase

58.97%

38.24

61.76

 

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa  pembelajaran IPA Khususnya pada konsep gaya ini cukup sulit, karena banyaknya siswa yang belum tuntas belajar. Dengan demikian diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran yang salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa. Pembelajaran yang disajikan adalah tentang konsep gaya pada pembelajaran IPA..

Salah satu upaya yang dilakukan peneliti adalah dengan menciptakan suasana pembelajaran yang mengutamakan pada peningkatan prestasi siswa dengan cara mengajak mereka bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep gaya yang diajarkan.

Untuk menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep gaya yang diajarkan, maka penulis menggunakan model pembelajaran CTL.

Model pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran yang mengaitkan materi dengan situasi nyata, siswa didorong untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan dunianya, yaitu model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa, apakah dengan model pembelajaran CTL dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pada topik gaya?

 

  1. C.    Permasalahan

Masalah yang muncul secara lebih rinci dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Guru belum menggunakan model yang tepat dalam pembelajaran IPA.
  2. Guru banyak mendominasi kegiatan dalam pembelajaran IPA.
  3. Tingkat pencapain hasil belajar IPA siswa masih rendah.

Secara umum permasalah dalam penelitian ini ialah “Bagaimana penerapan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA pada topik gaya  di kelas IV  SDN Lengkongjaya Kec. Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya“.

Untuk lebih jelasnya secara operasional masalah tersebut di atas, dijabarkan ke dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana  merancang model pembelajaran CTLuntuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep gaya pada pembelajaran IPA  di kelas IV?
    1. Bagaimana menerapkan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep gaya pada pembelajaran IPA  di kelas IV?
    2. Sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa tentang konsep gaya pada pembelajaran IPA  di kelas IV?

Konsep gaya yang digunakan peneliti dibatasi oleh dua sub pokok bahasan yakni: pengaruh gaya terhadap benda bergerak dan gaya mempengaruhi bentuk benda. Kegiatan penelitian dilakukan dalam dua siklus.

 

 

  1. D.    Cara Pemecahan Masalah

Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka cara pemecahan masalah yang akan dilakukan yaitu dengan penerapan model pembelajaran CTL.

Model pembelajaran CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.

CTL sebagai suatu model  pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas menurut Paulo Freire (Sanjaya, 2005 : 116-117). Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL.   Komponen   tersebut  antara lain  konstruktivisme,    inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi   (reflection), dan   penilaian nyata    (authentic assessment).

 

  1. E.       Tujuan dan Manfaat Penelitian
  2. 1.      Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka  tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. a.       Memperoleh gambaran bagaimana merancang model pembelajaran CTL agar siswa memberikan respons dalam meningkatkan hasil belajarnya  tentang Konsep Gaya pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Lengkongjaya Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
  2. b.      Mendapatkan gambaran bagaimana menerapkan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang Konsep Gaya pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Lengkongjaya Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
  3. c.       Mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar siswa tentang Konsep Gaya pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Lengkongjaya Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya.
  4. 2.      Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian adalah:

  1. a.      Siswa

Melalui model pembelajaran CTL siswa lebih aktip, inovatip,kreatip, dan menyenangkan dalam kegiatan belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa  tentang konsep gaya.

  1. b.      Guru

Dapat memmiliki alterantip penggunaan model pembelajaran untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajran secara optimal.

  1. c.       Sekolah

Diharapkan temuan PTK ini menjadi masukan positif dalam upaya meningkatkan kualitas KBM khususnya dalam pembelajaran IPA.

 

  1. F.     Kerangka Teori dan Hipotesis
    1. 1.      Kerangka Teori
      1. a.       Contextual Teaching and Learning(CTL)

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

  1. b.      Hakekat Model Pembelajaran CTL

Model  pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.
Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang.

Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu.  Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku.
Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL menurut Sanjaya (2005:114) antaralain:

a)      Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.

b)      Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.

c)      Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.

d)     Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.

e)      Belajar pada dasarnya  mengacu pada segala kegiatan yang dirancang untuk mendukung proses belajar yang  ditandai dengan adanya perubahan prilaku individu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran .    Dalam    hal ini   ciri-ciri pembelajaran adalah kegiatannya mendukung proses belajar siswa ,   adanya interaksi antara individu dengan sumber belajar ,   serta   memiliki   komponen- komponen tujuan, materi, proses, dan evaluasi yang saling berkaitan . Masing-masing teori belajar memiliki asumsi dasar , komponen dasar dan kontribusi yang khas (Winataputra, 2008: 1.14).

Selanjutnya Sanjaya (2005:115) memberikan penjelasan perbedaan CTL dengan pembelajaran konvensional, antara lain:

a)      CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.

b)      Dalam pembelajaran CTL siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima, dan memberi. Sedangkan, dalam pembelajaran konvensional siswa lebih bnayak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.

c)      Dalam CTL pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoretis dan abstrak.

d)     Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.

e)      Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah nilai danangka.

f)       Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman, atau sakadar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.

g)      Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh oranglain.

h)      Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing;   sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

i)        Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.

j)        Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.

Berdasarkan perbedaan pokok tersebut di atas, bahwa CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire (Sanjaya, 2005:116-117) sebagai sistem penindasan. Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL yakni:

a)      Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keleluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ‘’penguasa’’ yang memaksakan kehendak, melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengantahapperkembangannya.

b)      Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.

c)      Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian peran guru adalah membantu agar setiap siswa mempu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.

d)     Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.

Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain temasuk guru, akan tetapi dari proses  menemukan  dan mengontruksinya  sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka.

CTL sebagai suatu model  pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Komponen tersebut antara lain  konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection),    penilaian nyata    (authentic assessment)

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya.

Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksinya. Piaget menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:

a)       Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka,  akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.

b)      Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

c)       Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalamanseseorang.

Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengonstruksi pengetahuan melalui proses pengamatan dan pengalaman. Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan   tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intektual, mental emosional maupun pribadinya.

Apakah inkuiri hanya bias dilakukan untuk mata pelajaran tertentu saja? Tentu tidak. Berbagi topik dalam setiap mata pelajaran dapat dilakukan melalui proses inkuiri. Secara umum proses ikuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulakn data, menguji hipotesis berdasarkan data    yang   ditemukan   dan   membuat  kesimpulan.

Penerapan asas ini dalam pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk mengui hipotesis sebagai dasar   dalam  merumuskan   kesimpulan.

Ketiga, bertanya (questioning). Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai    refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Oleh sebab itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: (1) menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; (2) membangkitkan motivasi siswa untuk belajar; (3) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; (4) memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; dan (5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

Keempat, masyarakat belajar (learning community). Dalam CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dialukan dengan  menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi  dalam  kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan  kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.

Kelima, pemodelan (modeling). Maksudnya adalah, proses pembelajaran dengan menggunakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana cara mengggunakan thermometer dan lain sebagainya.

Proses modelling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh    untuk      menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modelling siswa dapat  terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.

Keenam, refleksi (reflection) adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara  mengurutkan kembali kejadian atau  peristiwa  pembelajaran  yang  telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif  siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.   Bisa terjadi  melalui  proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah  dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya. Dalam setiap proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap  berakhir  proses  pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk ‘’merenung’’ atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkanlah secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri,  sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.

Ketujuh, penilaian nyata (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah     pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:

  1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan  pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.
  2. Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaraan secara keseluruhan.
  3. c.       Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil dari proses kegiatan belajar mengajar dengan adanya perubahan pada diri siswa yang tercermin dalam hal kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berfikir positif, berfikir rasional, dan kritis. Hal ini berarti bahwa seseorang/ peserta didik yang telah melalui proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan nilai, serta sikap peserta didik secara proporsional.

  1. d.      Pengertian Pembelajaran IPA

Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-garis Besar Program Pendidikan (GBPP) kelas VI Sekolah Dasar dinyatakan:  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains merupakan hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep-konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses kegiatan ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.

Lebih lanjut pengertian IPA menurut Fisher (1975) yang dikutip oleh Amin (1987:3) mengatakan bahwa “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik yang didalamnya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPA (sains) merupakan salah satu kumpulan ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta, baik ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta yang bernyawa ataupun yang tak bernyawa dengan jalan mengamati berbagai jenis dan perangkat lingkungan alam serta lingkungan alam buatan. IPA (sains) merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematik untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,  prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Pendidikan Sains di SD bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2004:33). Menurut Sumaji (1998:31), IPA (sains) berupaya untuk membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya mengenai alam sekitarnya. Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Sang pencipta (Depdikbud 1993/1994: 97).

  1. e.       Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Tujuan pemberian mata pelajaran IPA atau sains munurut Sumaji (1998:35) adalah agar siswa mampu memahami dan menguasai konsep- konsep IPA serta keterkaitan dengan kehidupan nyata. Siswa juga mampu menggunakan metode ilmiah untuk memcahkan masalah yang dihadapinya, sehingga lebih menyadari dan mencintai kebesaran serta kekuasaan Penciptanya. Pengajaran IPA menurut Depdikbud (1993/1994:98-99) bertujuan agar siswa:

a)      Memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan     sehari-sehari.

b)      Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan,      dan ide tentang alam di sekitarnya.

c)      Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta       peristiwa di lingkungan sekitar.

d)     Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri,     bertanggungjawab, bekerjasama dan mandiri.

e)      Mampu menerapkan berbagai macam konsep IPA untuk menjelaskan       gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-      hari.

f)       Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk      memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

g)      Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga       menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar dinyatakan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains adalah sebagai berikut:

a)      Menanamkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap      teknologi dan masyarakat.

b)      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,       memecahkan masalah dan membuat keputusan.

c)      Menanamkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

d)     Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains       kehidupan sehari-hari.

e)      Mengalihgunakan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman       kebidang pengajaran lainnya.

f)       Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan       alam.

g)      Menghargai ciptaan Tuhan akan lingkungan alam.

Maksud dan tujuan tersebut adalah agar anak memiliki pengetahuan tentang gejala alam dan berbagai jenis dan peran lingkungan alam dari lingkungan buatan dengan melalui pengamatan agar anak tidak buta dengan pengetahuan dasar mengenai IPA.

  1. 2.      Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah dugaan tentang suatu hal yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan, atau jawaban terhadap masalah yang diteliti dan secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. (Sudarsono dalam Kasbuloh, 1996:65) Berdasarkan hal tersebut di atas, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

“Jika pembelajaran konsep gaya menggunakan model CTL, maka hasil belajar siswa akan meningkat”.

 

  1. G.    Rancangan dan Metode Penelitian
  2. 1.    Rancangan Penelitian
    1. a.      Subjek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lengkongjaya Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2011/2012. Guru adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan seorang guru mitra sebagai supervisor. Jumlah siswa dalam penelitian ini sebanyak 34 orang yang terdiri atas 20 orang laki – laki dan 14 orang perempuan.

  1. b.      Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Lengkongjaya Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Kelas IV semester dua Tahun Pelajaran 2011/2012 dilakukan selama tiga bulan (April-Juni) meliputi studi pendahuluan, persiapan, pelaksanan, dan evaluasi hasil kegiatan.

  1. c.       Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

1)      Observasi

Observasi digunakan peneliti pada setiap pertemuan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Observasi ini dilakukan oleh supervisor yaitu guru SDN Lengkongjaya. Supervisor mengamati segala aktifitas guru dan siswa dalam memberikan komentar dalam kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran Konsep Gaya melalui Penerapan Model Pembelajaran CTL. Lembar observasi diarahkan kepada peneliti setelah selesai proses pembelajaran.

2)      Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran yang telah direncanakan yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan nilai, serta sikap peserta didik secara proporsional mampu diserap oleh peserta didik. Tes hasil belajar diperoleh pada setiap akhir dari siklus pembelajaran.

3)      Wawancara

Data yang didapatkan dari wawancara merupakan data yang menguatkan data yang diperoleh. Mengetahui pendapat siswa pelaksanaan pembelajaran dengan Penerapan Model Pembelajaran CTL dan penilaiannya, serta mengetahui tanggapan tentang kesulitan apa aja yang dialami dalam Penerapan Model Pembelajaran CTL.

  1. d.      Instrumen Penelitian

1)      Lembar Observasi

Lembar observasi diigunakan untuk mengetahui aktifitas guru dan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

  1. Lembar observasi untuk mengetahui kemampuan guru dalam membuat RPP
  2. Lembar observasi terhadap kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran
  3. Lembar observasi untuk mengungkapkan kualitas kemampuan guru mengelola cara Penerapan Model Pembelajaran CTL pada setiap kegiatan pembelajaran
  4. Lembar observasi untuk mengungkapkan sikap ilmiah siswa pada pembelajaran dengan menggunakan Model CTL
  5. Lembar observasi untuk mengungkapkan keterampilan ilmiah siswa pada pembelajaran dengan menggunakan Model CTL

2)      Tes Hasil Belajar

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Bentuk tes berupa soal pilihan ganda berjumlah sepuluh soal dengan empat option untuk setiap siklus yang bertujan untuk memonitor kemampuan belajar siswa yang diperoleh selama proses belajar berlangsung sampai akhir pelajaran. Hasil pelajaran yang akan diukur adalah ranah kognitif yang dibatasi hanya pada jenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan atau aplikasi (C3), 30 selanjutnya soal yang jawabnya benar diber nilai 1 dan yang salah diberi jawaban 0

3)      Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara dilakukan untuk memperoleh tanggapan dari siswa mengenai Penerapan Model Pembelajaran CTL. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak berstruktur (wawancara terbuka)

 

Indikator Pedoman Wawancara

NO

INDIKATOR

1

Penerapan Model CTL dalam pembelajaran

 

2

Ketertarikan pada Penerapan Model Pembelajaran CTL

 

3

Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan

menggunakan Model Pembelajaran CTL

4

Kelebihan penggunaan Model Pembelajaran CTL

 

5

Hasil belajar setelah kegiatan belajar mengajar menggunakan

Model Pembelajaran CTL

 

  1. 2.      Metode Penelitian
    1. a.      Metode Penelitian

Model PTK yang dipilih adalah model PTK yang dikembangkan dari Kemmis dan Tagart. Dasar pemilihan model ini antara lain pertimbangan keserderhanaan pada langkah tindakan yang hampir sama dengan pelaksanaan pembelajaran yang biasa dilaksanakan oleh guru. Selain itu adanya kesesuaian dengan fokus masalah yang akan diteliti pada penelitian ini yakni Penerapan Model Pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang Konsep Gaya dikelas IV.

Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, tiap siklus secara garis besar terdiri dari tiga tahap, yaitu merencanakan, melakukan tindakan dan mengamati serta merefleksikan. Satu siklus tindakan sama dengan satu kali tindakan pembelajaran dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Untuk selanjutnya istilah siklus tindakan identik dengan tindakan pembelajaran.

Alur pelaksanan tindakan kelas tersebut menggunakan sistem spiral fefleksi yang mencakup empat langkah, yaitu :

a)      Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan

b)      Melaksanakan tindakan dan pengamatan

c)      Refleksi hasil pengamatan

d)     Perubahan / revisi untuk pengembangan selanjutnya.

Secara umum alur penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat pada gambar berikut :

 

 

 

 

Gambar  Alur Penelitian Tindakan Kelas

 

                        Pra Penelitian :

  1. Menentukan Permasalahan
  2. Mengumpulkan Data Awal tentang hasil belajar

 

Rencana Tindakan

Siklus 1

 

 

  Refleksi Siklus 1

 

   Pelaksanaan           

                                                                Tindakan

                                                                Siklus  1

 

                                 Observasi Siklus 1

 

 

 

 

 

 

Rencana Tindakan

Siklus 2

 

          Refleksi Siklus 2

 

                       Pelaksanaan   

                                                                 Tindakan

                                                               Siklus 2

 

                                 Observasi Siklus 2

 

 

 

 

Evaluasi dan refleksi

Siklus 1 dan 2

                                                                                       

 

 

 

 

  1. b.      Tahap – Tahap Penelitian

1)      Perencanaan (Planning)

Pada perencanan tahap ini peneliti merencanakan kegiatan dan menetapkan waktu serta cara penyajiannya. Menyiapkan alat observasi untuk aktifiatas siswa saat pembelajaran, menentukan alterntif tindakan yang dapat dilakukan, menyusun rencana tindakan, menyiapkan alat dan teknis analisis data.

2)      Tindakan (Action)

Tindakan ini merupakan tahap pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan yang telah disepakati bersama pada tahap perencanaan

3)      Observasi (Observation)

Pada tahap ini guru yang ditunjuk sebagai supervisor, mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh peneliti dengan lembar obervasi aktifitas siswa dan guru.

4)      Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan tahap terakhir dari suatu daur penelitian tindakan kelas. Pada tahap ini supervisor dan peneliti mendiskusikan hasil tindakan dan sebagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian, refleksi dapat ditentukan setelah adanya implementasi tindakan dan hasil observasi. Setelah melakukan refleksi biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru, sehingga merasa perlu melakukan perencanaan ulang, tindakan ulang dan refleksi ulang. Demikian tahap kegiatan terus berulang sehingga membentuk siklus yang kedua, ketiga dan seterusnya sampai suatu permasalahan teratasi.

5)      Rencana Tindak Lanjut

Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA tentang Konsep Gaya peneliti menggunakan Penerapan Model Pembelajaran CTL.

 

  1. H.    Jadwal Penelitian

Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan, prosesnya mengikuti jadwal seperti yang ditentukan berikut ini :

 

No

Aktivitas

Waktu

Ket

April

Mei

Juni

1

Penyusunan Proposal                                

2

Bimbingan Proposal                                

3

Pelaksanaan

Siklus 1

                               

4

Bimbingan dan Penyusunan Laporan Siklus 1                                

5

Pelaksanaan

Siklus 2

                               

6

Bimbingan

Siklus 2

                               

7

Penyusunan Laporan Penelitian                                

8

Bimbingan Akhir

 

                               

9

Ujian

 

                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. I.       Daftar Pustaka

Amin (1987:3). Pengertian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Jakarta : Depdiknas

 

Budiamin, Amin. (2009). Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas Untuk Memantapkan Kemampuan Profesional Guru. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Pembelajaran Kontekstual. Jakarta : Depdiknas.

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta : Depdiknas.

 

Fathurohman, Pupuh. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : PT Refika Aditama.

 

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. (2002). Pembelajaran dan                                                                                                                             Pengajaran Kontekstual. Jakarta : Depdiknas.

 

Nurhadi. (2003). Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.

 

Priyono, Andreas. (2000). Penulisan Proposal Penelitian CAR. Depdikbud. Lampung.

 

Sanjaya (2005:114) Konteks dalam CTL

Sanjaya (2005:116-117). Azas-azsa Dalam CTL

Sudarsono  (1996:65) Hipotesis Tindakan

Sudjana, Nana. (2001). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja  Rosdakarya.

 

Sumaji (1998:35). Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Jakarta : Depdiknas

 

Undang, G. (2008). Teknik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Sayaga Tama.

 

Tim. (2003). Pendekatan Kontekstual (CTL). Jakarta : Depdiknas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s